Kuli Bangunan dan Sepeda Tuanya.

A d v e r t i s e m e n t

Kuli Bangunan dan Sepeda Tuanya ini adalah kisah nyata dan bukan fiksi. Tidak seperti biasanya saya bangun  agak kesiangan walaupun tadi sore sudah memejamkan mata sekitar pukul delapan malam sehabis sholat isya. Dan pagi ini seperti yang sudah saya rencanakan sebelum tidur bahwa akan pergi pagi – pagi ke lokasi kavling 11 Jl. H. Komarudin Gg. Perdana Kelurahan Rajabasa Raya, untuk melihat perkembangan bagunan pondasi rumah yang sudah dikerjakan sejak tanggal 7 Juli 2011 lalu.

Walaupun agak kesiangan akhirnya saya dan kedua saudara saya memutuskan untuk berangkat, sampai dilokasi sekitar jam 07.00 pagi. Suasana masih sepi dan dingin karena tadi malam hujan turun lumayan deras, setelah melihat kondisi bagunan yang baru sekitar 70 % selesai dipondasi kami berencana meratakan tanah pada bangunan pondasi yang sudah selesai, tetapi ternyata gudang tempat meyimpan alat dan material dipasang gembok tambahan dan saya tidak mempunyai kunci untuk membuka gembok tambahan itu. Masih sedikit bingung dan tidak tahu alasan  kenapa para pekerja dan tukang memasang kunci tambahan. Akhirnya daripada tidak melakukan apa-apa kami sepakat memindahkan batu bata yang menghalangi colon pondasi untuk teras rumah.

A d v e r t i s e m e n t

Jam 8.00 datanglah salah satu tukang dan perkiraan saya pasti diantar oleh anaknya hanya sampai jalan utama, setelah menyapa kami dia masuk ke gudang alat dan material mempersiapkan alat dan bahan bangunan dan melaporkan bahwa jam dinding belel serta sisir rambutnya telah dicuri oleh maling, dia menjelaskan alasan kenapa menambah gembok pada pintu gudang itu. Tak berselang lama datang lagi pak tukang yang kedua, setelah beres-beres diapun bergabung dengan kawannya untuk mempersiapkan adukan semen.

Setelah kedua bapak tukang tersebut selesai mebuat adukan semen barulah datang si Kuli Bangunan dan Sepeda Tuanya dan segera memarkir sepedanya dibawah pohon pisang. Dan tiba-tiba bapak tukang yang datang pertama menyapanya “Ada gabung ya dijalan” serentak saya dan saudara-saudara saya tertawa mendengar guyonan pak tukang, hari gini sepeda onthel takut gabungan polisi hehehe.

Kuli Bangunan dan Sepeda Tuanya adalah gambaran perjuangan mempertahankan hidup berbekal tenaga dan kesehatan, keberadaan mereka sama seperti kita, mempunyai KTP, keluarga, tanggung jawab, dan kebutuhan yang harus dipenuhi. Hari ini saya benar-benar merasakan menjadi kuli bangunan sebuah pekerjaan yang tidak pernah dicita-citakan semasa kecilnya.

Kuli Bangunan dan Sepeda Tuanya jasamu akan selalu kami kenang.

Rumah Bersama Raya, 19 Juli 2011

Komentar Anda :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *